If only love was still as simple as it was....

Sebut saja kisah tentang dua orang yang sedang kasmaran.

Beri saja inisial B untuk Boy dan G untuk Girl.

Boleh juga L untuk si Lelaki dan P untuk si Perempuan.

Bisa jadi Co untuk si Cowok dan Ce untuk si Cewek.

Mungkin juga P untuk si Pria dan W untuk si Wanita.

Wong Kito boleh pake B untuk si Bujang dan G untuk si Gadis.

Wong Betawi boleh pake A untuk si Abang dan N untuk si None.

Wong Padang boleh pake Ud untuk si Uda dan Un untuk si Uni.

Wong Barat ada yang bilang M untuk si Male dan F untuk si Female.

Wong Barat lain pake M untuk si Man dan W untuk si Woman.

Ada yang pake Pj untuk si Perjaka dan Pw untuk si Perawan.

Kalo rela, silahkan pake J untuk si Jantan dan B untuk si Betina.

Intinya, ada sepasang kekasih beda kelamin.


---


Siang menuju sore hari, B (atau L atau Co atau P atau B lagi atau A atau Ud atau M atau M lagi atau Pj atau J) berangkat ngapel ke rumah pacar tercinta dengan motor bututnya.

Sampe di rumah target, ternyata si G (atau P atau Ce atau W atau G lagi atau N atau Un atau F atau W atau Pw atau B) pujaan hati sudah menunggu di depan rumah.

B segera memarkir motor di halaman, membuka helm, dan langsung mendekati G dengan tatapan nanar penuh dendam ekspresi kebingungan.


G yang melihat wajah tidak manusiawi sendu pacarnya itu pun merasa gundah,

dan bertanya, "Wahai Kakanda, wajahmu menampakkan rona tak biasa. Adinda khawatir itu sebuah pertanda kegalauan di hatimu. Ada apakah gerangan?"

dan bertanya, "Koq mukamu macam orang linglung? Ada apa ya?"


B langsung duduk di kursi sebelah G, tanpa menjawab, sambil tetap mempertahankan ekpresi bingung mendekati bloon di wajahnya.

Seketika dia berkata, "Tolong cubit aku."


G yang bingung dengan tingkah pacarnya menjawab, "Emang kenapa?"


B menegaskan, "Tolong cubit aja."

G pun menurut dan mencubit lengan B.


"Aduh!" kata B.


G cemas karena khawatir cubitannya terlalu pedas, tapi melihat senyum mengembang di wajah B, G kembali bingung.

"Koq senyum-senyum sendiri?" katanya sambil berpikir jangan-jangan pacarnya sudah tidak waras!.


B menjawab, "Nggak apa-apa."

"Tadinya ku pikir ku lagi mimpi," lanjutnya.


"Mimpi apa?" tanya G lugu.


B menjawab, "Mimpi ketemu bidadari cantik yang ada di hadapanku ini," sambil memandang G.


G tersipu malu dan hanya bisa menjawab, "Gombal!"


Dan B hanya berkata, "Kamu memang cantik," untuk menegaskan bahwa apa yang dikatakannya bukanlah kebohongan.



---


Di siang menuju sore hari lainnya, B dan G sedang bercengkerama di teras rumah G.

Berbincang-bincang ngalor ngidul mengenai apapun.


Mereka tampak serasi.

Dapat diketahui dari pembicaraan mereka yang selalu nyambung.

Saat B berbicara tentang sepak bola, G membahas salon yang baru buka.

Saat G berbicara tentang belanja, B membahas komik One Piece.

Sungguh chemistry mereka berdua tidak terpisahkan.


Sesaat G memandang langit, menikmati barisan awan putih yang berarak.

Terkadang berkumpul membuat bentuk aneka rupa, terkadang bercerai berai.


G melihat satu bentuk awan yang lumayan nyentrik.

"Eh, lihat awan itu deh," katanya.


"Um?" balas B.


"Itu tuh! Yang itu!" lanjut G lagi, "Bentuknya mirip muka Bi Yati."


Tak ada jawaban dari B.

Merasa heran apakah pacarnya masih hidup atau tidak lantas G menoleh.

Ternyata B sedang menatap dirinya lekat-lekat sambil tersenyum mesum manis.


Grogi dan tersipu, G bertanya, "Koq ngeliatin aku kaya' gitu?"


"Nggak apa-apa koq," jawab B.

"Tolong jewer aku, dong!" pinta B kemudian.


G sedikit bingung dan kembali bertanya, "Kenapa?"


"Nggak... Jewer aja," balas B.

Meski masih sedikit heran, G pun memenuhi permintaan B dan menjewer telinga kanan B.


"Sakit! Sakit!" ringis B.


"Oh, sakit ya? yaiyalah!" G sedikit panik dan berusaha meniup telinga yang baru dijewernya tadi, dalam usaha meredakan rasa sakit meski yang terjadi hanya tambahan ludah G yang muncrat melumuri telinga B.


"Gpp... Ternyata betul bukan mimpi," kata B.


"Mimpi?" tanya G bingung.


"Iya, soalnya kamu makin anggun aja sih. Kupikir ku lagi mimpi ketemu bidadari lagi," balas B.


"Gombal lagi ah!" jawab G dengan wajah tersipu.


B kembali memandang lekat G.


"Eh, kenapa ga minta dicubit aja?" tanya G lugu.


"Nggak ah... Cubitan kamu sakit. Pedes banget," jawab B.


"Masa sih?" tanya G tak percaya.


"Iya... Makanya aku minta dijewer aja," balas B.


"Emang dijewer ga sesakit dicubit ya?" tanya G polos.


"Sama aja!" jawab B singkat.

Dan sore itu berlanjut dengan cubitan-cubitan yang dilancarkan G, yang merasa tidak terima.

Cubitan sayangkah itu?


---


Suatu siang menuju sore hari lain, B dan G menghabiskan waktu bersama menonton televisi di ruang tengah rumah G (G melulu ni) rumah B.

Acara yang ditonton kebetulan adalah sinetron Inayah yang menjadi kesukaan G (dan B dengan sedikit keterpaksaan).


Sinetron tersebut sedang seru-serunya menayangkan iklan, ketika B mendadak

berkata kepada G, "Ganti channelnya donk!" yang disambut gamparan oleh G

berkata kepada G, "Tolong tampar aku donk!"


G sedikit bingung, tapi karena telah cukup pengalaman mencubit dan menjewer, serta merta menampar B.

Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! Plak! (disederhanakan menjadi satu kali tamparan karena dikhawatirkan dapat menggambarkan KDRT)


"Aduh!" teriak B sambil meringis kesakitan.

"Koq kamu beneran nampar aku sih?" lanjutnya lagi.


"Lho tadi kamu yang minta, kan?" balas G lugu.


"Jadi kalo aku minta kamu gebuk aku pake balok kayu, kamu lakuin?" tanya B, ada sedikit nada kesal dalam kata-katanya.


"Mmm... Ya nggak donk," balas G polos.


"Kenapa nggak? Buktinya, kamu aja tega nampar aku!" balas B.


"Ku ga bakal gebug kamu pake balok kayu koq," G membalas.

"Aku kan ga kuat ngangkat balok kayu, mana bisa gebukin kamu," lanjutnya polos.


B terdiam sejenak.

"Terus kalo aku minta kamu nusuk aku pake pisau, kamu lakuin?" tanya B, nada suaranya sedikit berubah.


"Mmm... Ya nggak juga," balas G.


"Kenapa nggak? Kan kamu kuat ngangkat pisau?" tantang B.


"Kalo ku tusuk kamu pake pisau, nanti kamu mati donk," balas G lagi, masih dengan lugunya.


B sekali lagi terdiam sejenak.

"Tapi kamu tega nampar aku. Sakit tau," kata B ketus.


"Oo... sakit ya?" ya iyalah! ulang G polos.


B diam saja dan memasang wajah cemberut.


"Ya udah. Biar adil, kamu juga nampar aku deh," kata G.

"Tapi jangan keras-keras, ya," lanjutnya.


"Yakin?" tanya B.

G hanya mengangguk pelan.


B lantas mengambil ancang-ancang untuk menampar G.

Telapak tangannya mengayun ke pipi kiri G yang jerawatan yang mulus.

G sedikit takut dan memejamkan mata, sambil menahan sakitnya ditampar pacar tersayang.


Namun, alih-alih menampar, B malah mencium pipi G (macam di sinetron yang tadi ditonton).

G sedikit kaget.

"Ih, cari-cari kesempatan!" kata G sambil mencak-mencak.


B diam saja, hanya memandang tingkah laku pacarnya yang lugu itu.

"Aku cinta kamu," kata B.


G lantas terdiam dan tersipu malu.

"Sungguh," tambah B.


Namun G hampir tidak mendengarnya karena hatinya diselimuti bunga-bunga asmara.

Perasaan cinta yang sama juga dirasakan oleh B.

Larut.


---


Seandainya cinta masih sesederhana itu....
Labels: , , edit post
0 Responses